Harga karet pada pasar global semakin
hari semakin turun, hal ini menyebabkan rendahnya harga ditingkat petani, Harga
karet dunia saat ini turun jadi US$ 1,6/kg atau Rp 16.000/kg dari US$ 5,7 atau
Rp 57.000/kg. Sementara harga di tingkat petani hanya Rp 6.000-7.000/kg. Ada beberapa penyebab turunnya harga
karet ditingkat petani diantaranya :
Menurut
Bayu (Detik.com) penyebab anjloknya harga karet dunia adalah berubahnya
struktur perubahan karet dunia. Kebijakan karet yang awalnya hanya diintervensi
oleh 3 negara yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia di dalam International
Tripartit Rubber Corporation (ITRC), kini Vietnam juga sudah mulai campur
tangan. Alasannya, Vietnam kini menjadi salah satu produsen karet terbesar
ketiga di dunia menggeser Malaysia. Selain itu, stok karet di Shanghai, Tiongkok minggu lalu
meningkat (kelebihan suplai) menjadi 204.451 ton, sedangkan posisi closing stock dari anggota
ANRPC pada Desember 2013 tercatat 1.195.000 ton.
"Saat ini
struktur produsen karet dunia berubah, Vietnam menjadi negara nomor 3 produsen
karet terbesar di dunia mengalahkan Malaysia. Thailand nomor satu, Indonesia ke
dua dan Vietnam ke tiga. Padahal Vietnam tidak termauk dalam ITRC untuk bisa
mengatur pasokan karet di dunia," tuturnya.
Rendahnya
harga karet ditingkat petani, menyebabkan petani tidak mau menyadap karet yang
tentusaja akan menyebabkan turunnya tingkat pasokan produksi untuk industry,
jika industry tidak mendapatkan pasokan karet dari petani yang sudah ditentukan
batas kebutuhan nya, maka hal ini dapat menyebabkan industry gulung tikar
dikarnakan biaya produksi lebih besar daripada output. Maka imbasnya akan menjadi lebih serius untuk petani.
Untuk
dapat menyelsaikan permasalahan pemasaran global karet, Lima asosiasi
perdagangan karet di ASEAN berkumpul di Malaysia untuk membahas
lemahnya situasi pasar karet saat ini. Mereka mempertimbangkan bagaimana
mengelola dan menjaga harga karet alam di tingkat yang wajar bagi produsen dan
konsumen.
Pertemuan
itu juga mengangkat isu dan kesulitan yang dihadapi oleh anggota asosiasi yang
terdiri dari prosesor dan eksportir dalam pembelian/sumber bahan baku karet
mereka karena petani karet mengurangi kegiatan penyadapan, menebang pohon karet
tua mereka dan beralih ke kegiatan ekonomi lainnya. Selain itu, tidak ada
ekspansi baru dari perkebunan yang karet dilaporkan dari lima negara
sebagaimana dorongan pemerintah untuk menghentikan perkebunan karet baru.
Selain
itu, produksi karet di Thailand Selatan dan Utara Semenanjung Malaysia telah
dilaporkan menurun karena kedua daerah mengalami musim hujan tidak menentu,
sedangkan produksi karet di bagian selatan daerah karet Indonesia telah menurun
akibat musim gugur daun. Diskusi juga mengangkat isu kekurangan tenaga kerja
sebagai penyadap karet yang lebih memilih untuk melakukan kegiatan ekonomi
lainnya sebagai akibat dari harga karet yang lebih rendah yang telah
memengaruhi pendapatan mereka sebagai penyadap karet. "Jika harga karet
tetap lebih rendah dari biaya produksi, diperkirakan pasokan karet di pasar
global akan menurun di tahun-tahun mendatang," ungkapnya.
Untuk
mengurangi beban kerugian yang diderita petani karet, pertemuan itu sepakat
untuk mendesak anggota masing-masing asosiasi untuk tidak menawarkan karet
untuk dijual pada tingkat lebih rendah dari harga saat ini. Dalam jangka
panjang, asosiasi akan bekerja sama dan mempererat hubungan kerja dengan
pemerintah masing-masing dan konsumen dalam menjamin pasokan karet yang
berkelanjutan dan memadai untuk industri karet terkait.
Note : Gambar hanya digunakan sebagai keperluan Informasi
Reperensi : 5 Asosiasi di ASEAN Jaga Harga Karet II detik.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar