Breaking News

Jumat, 16 Januari 2015

Penyebab Menurunnya Harga Komoditas Karet Pada Pasar Global dan Petani



 

            Harga karet pada pasar global semakin hari semakin turun, hal ini menyebabkan rendahnya harga ditingkat petani, Harga karet dunia saat ini turun jadi US$ 1,6/kg atau Rp 16.000/kg dari US$ 5,7 atau Rp 57.000/kg. Sementara harga di tingkat petani hanya Rp 6.000-7.000/kg. Ada beberapa penyebab turunnya harga karet ditingkat petani diantaranya :

Menurut Bayu (Detik.com) penyebab anjloknya harga karet dunia adalah berubahnya struktur perubahan karet dunia. Kebijakan karet yang awalnya hanya diintervensi oleh 3 negara yaitu Thailand, Indonesia, dan Malaysia di dalam International Tripartit Rubber Corporation (ITRC), kini Vietnam juga sudah mulai campur tangan. Alasannya, Vietnam kini menjadi salah satu produsen karet terbesar ketiga di dunia menggeser Malaysia. Selain itu, stok karet di Shanghai, Tiongkok minggu lalu meningkat (kelebihan suplai) menjadi 204.451 ton, sedangkan posisi closing stock dari anggota ANRPC pada Desember 2013 tercatat 1.195.000 ton.

"Saat ini struktur produsen karet dunia berubah, Vietnam menjadi negara nomor 3 produsen karet terbesar di dunia mengalahkan Malaysia. Thailand nomor satu, Indonesia ke dua dan Vietnam ke tiga. Padahal Vietnam tidak termauk dalam ITRC untuk bisa mengatur pasokan karet di dunia," tuturnya.

 

Selain itu juga penyebab turunnya harga karet ditingkat petani juga disebabkan oleh rantai pemasaran yang panjang, rantai pemasaran ini disebabkan oleh tidak tersedianya pabrik pengolahan karet yang dekat dengan masyarakat, Di Daerah tempat saya tinggal yaitu Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur sebagian besar masyarakatnya mengandalkan karet untuk kegiatan usahanya, jauh nya jarak tempat pengolahan karet yang terletak di Kalimantan Selatan mengakibatkan rantai pemasaran menjadi panjang (Petani ---> Tengkulak ---->   Pedagang Besar --->  Produsen ---> Pasar Global) rantai yang saya ilustrasikan tersebut hanya dasarnya saja tentu saja rantai pemasaran dimasyarakat lebih panjang, setiap rantai pemasaran mengambil keuntungan masing-masing tergantung biaya pertambahan nilai yang mereka lakukan terhadap produk yang mereka pasarkan, namaun pada kenyataannya terkadang beberapa rantai pemasaran mengambil keuntungan tinggi tanpa melakukan kegiatan pertambahan nilai terhadap prodak yang mereka jual, oleh karena nya harga ditingkat petani sangat rendah. Selain itu juga biaya pengangkutan yang besar karena jauhnya jarak industry karet dari petani, berimbas pada biaya pengangkutan yang dibebabkan kepada petani.

Rendahnya harga karet ditingkat petani, menyebabkan petani tidak mau menyadap karet yang tentusaja akan menyebabkan turunnya tingkat pasokan produksi untuk industry, jika industry tidak mendapatkan pasokan karet dari petani yang sudah ditentukan batas kebutuhan nya, maka hal ini dapat menyebabkan industry gulung tikar dikarnakan biaya produksi lebih besar daripada output. Maka imbasnya akan menjadi lebih serius untuk petani.
 
 


Untuk dapat menyelsaikan permasalahan pemasaran global karet, Lima asosiasi perdagangan karet di ASEAN berkumpul di Malaysia untuk membahas lemahnya situasi pasar karet saat ini. Mereka mempertimbangkan bagaimana mengelola dan menjaga harga karet alam di tingkat yang wajar bagi produsen dan konsumen.

Pertemuan itu juga mengangkat isu dan kesulitan yang dihadapi oleh anggota asosiasi yang terdiri dari prosesor dan eksportir dalam pembelian/sumber bahan baku karet mereka karena petani karet mengurangi kegiatan penyadapan, menebang pohon karet tua mereka dan beralih ke kegiatan ekonomi lainnya. Selain itu, tidak ada ekspansi baru dari perkebunan yang karet dilaporkan dari lima negara sebagaimana dorongan pemerintah untuk menghentikan perkebunan karet baru.

Selain itu, produksi karet di Thailand Selatan dan Utara Semenanjung Malaysia telah dilaporkan menurun karena kedua daerah mengalami musim hujan tidak menentu, sedangkan produksi karet di bagian selatan daerah karet Indonesia telah menurun akibat musim gugur daun. Diskusi juga mengangkat isu kekurangan tenaga kerja sebagai penyadap karet yang lebih memilih untuk melakukan kegiatan ekonomi lainnya sebagai akibat dari harga karet yang lebih rendah yang telah memengaruhi pendapatan mereka sebagai penyadap karet. "Jika harga karet tetap lebih rendah dari biaya produksi, diperkirakan pasokan karet di pasar global akan menurun di tahun-tahun mendatang," ungkapnya.

Untuk mengurangi beban kerugian yang diderita petani karet, pertemuan itu sepakat untuk mendesak anggota masing-masing asosiasi untuk tidak menawarkan karet untuk dijual pada tingkat lebih rendah dari harga saat ini. Dalam jangka panjang, asosiasi akan bekerja sama dan mempererat hubungan kerja dengan pemerintah masing-masing dan konsumen dalam menjamin pasokan karet yang berkelanjutan dan memadai untuk industri karet terkait.
 
Note : Gambar hanya digunakan sebagai keperluan Informasi
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By